Bau harum rerumputan kian tajam ku cium ketika kakiku mulai menginjak rerumputan yang kian tebal dan kian tinggi hingga mencapai atas mata kaki,di sebelahku adik laki lakiku yang terlihat sangat gagah namun tetap lucu dengan topi biru hasil rajutan ibuku, nampak lincah melangkah menghindari jalan tak rata atau lubang bekas galian tikus atau barangkali kelinci liar yang sesekali masih sering nampak di sekitar jalan ini , dengan ringan kuikuti anak laki laki kecil yang berrusia 8 tahun dan 2 tahun lebih muda dariku , sedang jalanan masih nampak basah oleh embun yang turun semalaman kilaunya nampak begitu cemerlang di tempa sinar mentari yang mulai malu malu menampakkan diri, udara terasa begitu segar memenuhi seluruh paru paruku, pagi yang indah dan penuh semangat.
pagi ini adalah pagi ketiga liburan sekolahku dan hari ketiga tugasku membantu Ibuku mengantar bekal untuk pekerja sawah kami yang letaknya sekitar dua kilometer dari rumah ke arah barat, jalanan ini nampak meliuk bagai seekor ular yangsedang mengejar tikus sawah nampak di beberapa petak sawah pak tani mulai bekerja , ada yang membajak sawah atau sekedar mencangkultepi pematang sawah mereka nampak mereka penuh semangat dan mulai berkeringat meski hari masih sepagi ini barangkali mereka sudah mulai bekerja sejak setelah sholat shubuh tadi, aku sendiri sangat menikmati perjalanaan pagiku, karena dengan tugas ini aku merasa waktu mainku bertambah panjang barangkali demikian juga dengan pemikiran adikku yang selalu menemani tugas ini tiap pagi.
Jalanan ini di kiri kanannya di batasi parit kecil dengan air yang selalu mengalir gemericik yang sebagian alirannya tak nampak karena tertutup tanaman perdu berdaun lebar dengan bunganya yang berwarna ungu terang seperti bunga kangkung kulihat, hanya nampak lebih besar, sedang di daunannya seringkali ku lihat selalu ada hawan kecil semacam serangga dengan sayap yang baerwarna orenge tua menyala berbintik hitam lucu selkali karena hewan ini lucu dan tidak berbau atau mern\nyengat aku sering mengambil dan menggenggamnya, wah benar benar suasana yang aku sukai, ku lihat adikku mulai menikmati perjalanan pagi ini sambil menenteng tas berisi sebotol kopi untuk pembajak sawah dan sebotol lagi berisi teh hangat untuk kami berdua serta beberapa potong ubi rebus yang di selipkan ibu buat kita, sedang bawaanku adalah Rantang berisi nasi urap , gorengan tempe dan sedikit sayur pedas, aku tahu soalnya tadi waktu ibu menyiapkannya aku sempat mengintipnya , tak lupa juga ada sambalnya, uhh pasti nikmat bener sarapan pak pekerja nanti.
Perjalanan kita sudah sampai di perempatan berarti dudah tak jauh lagi sawah bapakku, dan kamipun mulai sering berpapasan dengan beberapa petani ,Kami harus tetap mengambil arah lurus karena yang belok kanan jalan menuju sebuah sungai besar, sungai setail namanya,dan sungai itu bersumber dari sebuah gunung yang nampak menjulang kebiruan di selimuti awan tipis berkilau di tempa sinar matahari yang mulai nampak penuh, Kata orang gunung itu adalah Gunung Raung, masih beriringan kita berjalan bersisihan sesekali adikku iseng menidurkan rerumputan berduri yang selalu nampak rebah daunnya jika tersentuh kaki adikku , suatu saat aku tahu itu namanya putri tidur, sedang aku lebih menyukai mengagetkan beberapa capung dengan macam warna yang sedang asyik hinggap di rerumputan hingga mereka akan menyebar berterbangan, nampak lucu sekali, sedang jalan yang ke kiri adalah jalan lain menuju kampung lain di ujung desa.
Sepertinya kita hampir sampai karena samar samar sudah kulihat pohon berdaun hijau gelap , nampak rindang dengan bunga derwarna kuning keemasan dan di bagian putiknya berwarna merah hati, Ayahku menamakannya pohon waru, pohon itu penanda bagiku bahwa sawah ayah di sisi kiri jalan dan harus menyeberangi parit kecil disisi jalan untuk mencapainya. samar juga mulai ku lihat seseorang sedang berteriak ho… ho… dengan suara nyaring mengendalikan sepasang kerbau penarik alat pembajak dari kayu dengan bagian belakang sangat tajam dan lancip.untuk membolak balik tanah yang sudah penuh genangan air, jadi lumpur.
” selamat pagi kakek Bary!” suara kita berdua hampir berbarengan. ” kakeng paro baya itu tersenyum ” pagi, anak anak.” katanya sambil mengarahkan bajaknya terus maju, ” kakek aku bawakan sarapan nasi urap loo pagi ini…! kataku, dan sebotol kopi panas ” kata adikku tak mau kalah.
Kakek Bary, adalah seorang laki laki separo baya tuanya, dengan badan yang masih nampak gagah, dengan kulit legam karena terbakar sinar matahari , sekilas orang itu nampak garang karena matanya yang tajam dan alis matanya yang tebal di tambah kumisnya yang melintang tebal di atas bibirnya yang juga kehitaman karena selalu menghisap kretek tembakau lintingan sendiri, anak anak yang belum mengenalnya pasti akan merasa segan jika berpapasan dengannya apalagi di tambah kegemarannya memakai baju gombrang berwarna hitam dan celana tiga perempat yang juga nampak kedombrohan yang juga berwarna hitam, dan yang paling menyeramkan bagiku adalah sebilah sabit yang nampak putih berkilau selalu di tenteng kemanapun dan kadang kadang nampak dia selipkan di bagian belakang pinggangnya, juga selembar karung plastik putih yang di gulung tak rapi ada di gapitnya di bawah ketiak, lengkaplah keseraman kakek Bary bagi anak anak sebayaku.
Namun mulai tiga hari lalu katakutanku dan adikku mulai berangsur menguap di hapus oleh cerita cerita kakek yang menarik tentang desaku, tentang dua anak laki-lakinya yang tinggal jauh di sebrang dan tentang anak perempuan satu satunya yang meninggal karena kolera.Awalnya seperti anak yang lain aku selalu lari terbirit-birit ketika melihat kelebatan kakek Bary, yang ada dalam bayanganku kakek yang satu ini tak boleh di dekati apalagi di sapa, bagiku dia seorang yang menyeramkan yang suka menculik anak kecil dan memasukkan kedalam karung putih yang selalu di bawanya dan kemudian anak anak yang tertangkap akan di jualnya ke kota, ihh ngeri sekali Aku tidak mau di jual karena aku tidak akan ketemu Ibu dan Ayahku.
“Ayo anak anak ikut sarapan bersama kakek, Ini Ibumumembawakan nasi banyak sekali !” kata kakek membuyarkan lamunanku tentang Kakek beberapa waktu yang lalu. ” terima kasih kek, kita belum lapar… ! kataku. “Aku masih mau mencari belibis sepertinya kemarin ku lihat di petakan sebelah barat ” kataku sambil berlari kecil mengikuti pematang yang sudah nampak rapi pasti ini di kerjakan kemarin setelah kita berdua pulang, ” Mbak, aku dapat belut nii.. !’ adikku berteriak dengan riang sambil menunjukkan seekor belut yang menggeliat dalam genggamannya dan nampak sudah di ikat dengan rumput di ujung kepalanya, entah bagaimana, pasti kakek ynag melakukannya.
Kakek Bary, ternyata seorang yang baik , sama sekali tidak galak dam menyeramkan setelah mengenalnya, bahkan dia terlihat sangat menyayangi kami, setelah beberapa kali kita berdua bertemu dengannya akhirnya aku tahu kenapa dia suka berbaju hitam hitam, itu di lakukan setelah anak perempuanya yang pada waktu itu usianya masih sebaya denganku meninggal karena kolera, karena terlambat membawanya berobat, pada waktu itu dia tidak punya uang untuk berobat, dan letak klinik sangat jauh di kota, sehingga anaknya tidak tertolong lagi, nampak pandangan sangat terluka di mata tuanya dan samar nampak bayangan air mata kesedihan di mata itu, sejak saat itulah dia selalu mengenakan baju hitam- hitam,waktu ku singgung tentang isu di antara anak anak bahwa dia suka menculik anak dan menjualnya , dia hanya tertawa lirih, sambil berkata, anak anak itu hanya di takut takuti orang tuanya agar tidak nakal dan mau patuh pada orang tuanya, karena kakek Bary tidak suka pada anak yang nakal.
Sekarang waktunya aku masuk sekolah berarti tugasku sekarang belajar lagi, dan sepertinya membajak sawah juga sudah berakhir, di teruskan dengan menyebar benih, tapi aku akan terus mengingat kakek Bary yang mengajariku banyak hal, dari kebiasaan bangun pagi sampai tentang hidup sederhana, sabar dan masih banyak lagi.
Matahari belum muncul sempurna ketika aku terbangun pagi ini dengan kabar yang menyedihkan , Kakek yang baik hati itu meninggal mendadak semalam , tidak ada yang tahu apa penyebabnya, beberapa orang mengatakan karena angin duduk, dan beberapa orang mengatakan karena jantung, Ahh… aku akan ikut ibu ke rumahnya untuk Takziah. selamat tinggal kakek Bary….smoga engkau bertemu dengan putrimu tercinta di surga… amien.
Kakek Bary
1 Tanggapan sejauh ini »
RSS Komentar · URI Lacak Balik
mamanyalintang berkata,
Maret 27, 2010 @ 1:27 pm
iya nii juga baru belajar, jadi sudah bisa mengalir aja dah lumayan…..