senyuman untuk Alya

Siang cukup menyengat, ketika aku tiba di rumah sepulang kuliah, sungguh hari yang melelahkan di akhir semester ini apalagi mata kuliah satu ini cukup menguras pikiran , Kalkulus , mudah mudahan ujian depan gak sempat remidi langsung lolos , kalo gak, aduh betapa membosankannya… , belum lagi tugas tugas. ini.. huh….! Aku hempaskan tubuh kurusku di kursi makan dengan suara berisik, hingga ibuku melotot seperti biasanya , aku tersenyum aja, melihanya seperti itu dan pasti komentarnya tentang itu tak pernah berubah, ” jadi anak perempuan mbok sing alus too wuk “, { wuk: adalah panggilankesayangan bagi anak perempuan ).  melihatku tersenyum ibu melunakkan pandangannya, ” cuci tangan dulu kenapa ?, dan tuu ada es jeruk manis di kulkas, ujarnya lembut. Aku beranjak berdiri menuju wastafel untuk cuci tangan dan kucium ibuku tercinta sebelum menghampiri es jeruk manis di kulkas, sambil menghimpit tas kuliah dan segelas es jeruk di tangan kanan aku ngeloyor pergi ke kamarku. ahh, enak banget rasanya melihat sprei biru lembut tertata rapi pengin aku segera menidurinya dan merasakan lembutnya dan harum khas wangi wangian pelembut kain, ahh , astaga aku belum sholat. bergegas aku ambil wudlu. dan mengerjakan kewajiban yang yang hanya sepuluh menit ini.

SOre mulai membayang ketika aku bangun tidur, sayup sayup aku dengar suara sapu lidi beradu dengan kering dedaunan di samping rumah pasti ibuku sedang menyapu guguran daun mangga yang selalu nampak dua hari tak tersentuh sapu, karena memang saat ini adalah musim kemarau dengan angin yang cukup mampu merontokkan dedaunan. ah, berapa jam aku tertidur ? au  hampir aku lupa, bukankah ini malam minggu… bergegas aku bangkit , bantu ibu beres beres di dalam rumah mandi dan sholat ashar, aku ada janji dengan seseorang pagi tadi dikampus bahwa malam ini aku akan menonton sebuah ajang pencarian bakat di gedung olah raga di pusat kota. aku meminta ijin pada ibuku, dan ibu mengiyakan dengan janji pulang tidak terlalu malam. ijin sudah kudapat.

Waktu terus merambat, detik berlalu dalam menir, dan merangkak dalam jam setengah delapan malam belum juga orang itu menapkan batang hidungnya, aku mulai resah… kenapa dia, lupa… atau mempermainkanku. ahh… keresahanku terbaca ibu . namun aku tak mampu menjelaskan apa2, dan tiba2 ada SMS masuk dari karibku si Dina, mengajakku berangkat ke acara yang sama karena kakaknya tak jadi menemaninya karena ada acara lain, akhirnya untuk mengobati kecewaku aku terima tawarannya. kami berdua berangkat bersama dari rumahku setelah Dini datang menjemput dengan motornya. Sampai di gedung kelihatanloket sudah penuh dan Syukur aku mendapatkannya dengan mudah karena kita ketemu beberapa teman sekampus yang nonton juga, kenapa semua ada di sini, karena salah satuteman kami ada yang mengikuti ajang ini. setelah di dalam gedung kami menemapati kursi agak di tengah , jadi letaknya agak ke atas ke betulan sederet adalah temen kita semua jadi seu aja.

Beberapa penampilan sudah berlalu dan tiba tiba ada yang berdesir, hatiku gelisah, sekelebat bayangan yang begitu ku kenal, melintas dengan menggandeng seorang gadis yang nampak demikian cantik dan munggil ahh, hatiku kenapa demikian pedih….. tiba 2 acara itu sudah tidak menarik lagi bagiku, aku mengajak dini pulang dan tak ku pedulikan tatapannya yang nampak binggung.

Alya, jadi itu namanya, nama yang indah. tapi Ryan kenapa harus berbohong ? kenapa harus kamu sembunyikan… aku bertanya sambil menahan tumpahan air mata,… Ida, tolong mengerti aku…. ! suara Ryan tak kalah bergetar menahan luapan rasa bersalahnya, Ah, sudah ku putuskan , aku memilih mundur dia masih demikian imut, aku yakin dia belum siap untuk mengerti tantang semua ini. ” Id, sungguh aku tidak mengasihinya sama seperti aku mengasihimu, aku hanya mencoba untuk menjaga persahabatanku dengan kakak laki lakinya, itu saja ” namun bagiku itu tidak mungkin karena bagaimana mungkin… aku bersaing mendapatkan perhatianmu dengan gadis se imut itu,? kataku.

Hari ini ulang tahunku yang ke dua puluh, tiba tiba se carik kartu ulang tahun bergambar bunga lily di pojoknya  cantik, bunga yang ku sukai, dan hanya Ryan yang tahu, ” selamat ulang tahun belahan jiwa ” singkat, namun mampu mewakili ribuan kalimat… aku terharu.  namun ada keperihan yang demikian syarat, aku binggung harus mengatakan apa, aku..ah , Ryan sampai sat ini aku masih suka merinduimu diam diam, mengenangmu dengan seluruh rasa ku, membawamu dalammimpi2ku yang indah, dan… terkadang pada malam malam yamg demikian senyap aku masih suka menghadirkanmu dalam khayalku, aku minta maaf Ryan….. benar benar minta maaf….. aku sudah terlanjur berjanji pada Alya…

Sore yang cerah namun tidak mewakili hatiku, aku dengan Anang separuh jiwaku pergi tengah ada di ambang mimpi yang membawaku pada hari hari yang demikian sunyi, tanpa joke2 segar, tanpa jalan2 bersama menikmati angin laut, tanpa makan bersama semangkuk bakso solo, atau sekedar ngobrol di teras belakang, hilang semua hariku yang demikian menyenangkan. samar ku dengar ketukan di pintu, setengahberlari ku buka pintu, dan seraut wajah demikian cantik, dengan binar mata demikian indah dan rambut ikalnya di ekor kuda nampak legam, senyumkecil nampak ragu menghias bibir mungilnya, aku tahu .. siapa dia meski hanya melihatnya sekali dan dari jauh.. dia Alya…… ada apa ini ?

Mbak, Ryan , hanya mencintaimu..? kata bibir mungil itu bergetar. Aku terpana, tak menyangka bahwa itu yang akan keluar dari mulut mungilnya. ” siapa bilang, dia sudah memilihmu, Alya ” sudahlah aku mohon jalani aja perjalanan kalian dengan baik aku gak apa apa khok… jawabku sedikit bergetar juga menahan perasaan. ah, smoga tuhan menolongku…lama kami ber cerita, aku tak menduga gadis belia ini mencintai Ryanku sedemikian, dan aku harus bijaksana, aku bisa lebih kuat, aku sudah lebih lama menikmati cinta ryan , biarlah toh sebentar lagi aku akan meninggalkan kota ini untuk menerima beasiswa yang di tawarkan sebuah lembaga pendidikan ke negri  jiran,  sekali lagi sambil menahan untuk tidak mengeluarkan air mata karena aku akan begitu kehilangan ,dan aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk melupakan Ryan,  aku berusaha untuk memberikan senyum termanisku buat Al;ya dan kemenangannya mendapakkan hati Ryan…

Nikmatilah cintamu Alya,nikmati curahan hati Ryanku,… aku tak akan mati karena itu, hidup akan terus berlanjut. { ini cerita rekaan }

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.